Pimpinan Pusat Himpunan Difabel Muhammadiyah (PP HiDiMu) kembali menggelar kegiatan rutin Ta’lim Qur’an Inklusif (TAQI), sebuah program pembinaan keagamaan yang dirancang khusus untuk menjangkau dan memberdayakan anggota difabel dari seluruh wilayah Jabodetabek.
Momentum Bersejarah: Pertama Kali di Masjid Attanwir PP Muhammadiyah
Yang menjadikan pelaksanaan TAQI kali ini istimewa adalah lokasinya — untuk pertama kalinya, kegiatan ini diselenggarakan di Masjid Attanwir Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jalan Menteng Nomor 62, Jakarta Pusat. Pemilihan lokasi ini bukan sekadar soal tempat, melainkan sebuah pernyataan simbolis yang kuat: bahwa ruang-ruang keagamaan utama organisasi Islam terbesar di Indonesia terbuka dan ramah bagi seluruh warganya, termasuk mereka yang menyandang disabilitas.
Kegiatan ini mendapat perhatian serius dari jajaran pimpinan organisasi. Hadir secara langsung dalam kesempatan tersebut:
- Fajri Hidayatullah — Ketua Umum HIDIMU
- Dedi Warman — Wakil Sekretaris Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial Pimpinan Pusat Muhammadiyah
- Hefinal — Kepala Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Kehadiran para pimpinan ini mencerminkan komitmen nyata Muhammadiyah dalam menjadikan inklusi difabel bukan sekadar wacana, tetapi bagian integral dari gerak organisasi.
Buya Risman Muchtar: Ibadah sebagai Pembeda Hakiki Manusia
Sebagai narasumber dalam TAQI kali ini, hadir Buya Dr. Risman Muchtar, salah satu penasehat Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah — seorang ulama yang dikenal luas atas kedalaman ilmu dan kecintaannya pada dakwah berbasis Al-Qur’an.
Buya Risman membawakan topik yang sarat makna: “Ibadah Sebagai Pembeda Manusia dari Makhluk Lainnya.”
Dalam uraiannya, Buya Risman menegaskan bahwa manusia menempati kedudukan yang unik dan mulia di antara seluruh ciptaan Allah. Berbeda dengan hewan dan tumbuhan yang tidak dibebani kewajiban syariat, manusia dianugerahi akal, kehendak, dan tanggung jawab moral. Inilah yang menjadikan manusia layak menerima amanah besar sebagai Khalifatul fil Ardhi — wakil Allah di muka bumi.
“Kita bukan sekadar makhluk biologis yang hidup dan mati. Kita adalah hamba Allah yang diberi amanah, dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah itu di hadapan-Nya.”
Pesan ini memiliki resonansi yang sangat dalam bagi para peserta difabel. Buya Risman menekankan bahwa keterbatasan fisik tidak sedikitpun mengurangi derajat kemanusiaan seseorang di hadapan Allah. Justru sebaliknya — mereka yang beribadah di tengah ujian dan keterbatasan memiliki keutamaan tersendiri. Ibadah bukan hak eksklusif mereka yang sempurna secara fisik; ibadah adalah hak, kewajiban, sekaligus jati diri setiap insan beriman.
TAQI: Lebih dari Sekadar Pengajian
Program Ta’lim Qur’an Inklusif sejatinya merupakan wujud nyata dari visi HiDiMu dalam memastikan bahwa anggota difabel tidak hanya terpenuhi kebutuhan sosial dan ekonominya, tetapi juga kebutuhan spiritual dan intelektual keagamaannya.
Melalui TAQI, para penyandang disabilitas didorong untuk tidak berhenti belajar, tidak berhenti bertumbuh, dan tidak berhenti mendekatkan diri kepada Allah — karena pada hakikatnya, itulah tujuan tertinggi dari keberadaan seorang manusia di dunia.
Dengan diselenggarakannya TAQI di Masjid Attanwir — jantung dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah — semoga ini menjadi pintu bagi semakin banyak masjid dan lembaga keagamaan di seluruh Indonesia untuk membuka diri: menyambut, mengakomodasi, dan memuliakan seluruh jamaah tanpa terkecuali.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” — QS. Adz-Dzariyat: 56

MasyaAllah, TabarakAllah berkah selalu semua teman teman HIDIMU 🙏🏻💪🏻